Wednesday, May 8, 2013

PENEMUAN POPULASI DAN HABITAT PESUT (Orcaella brevirostris) DI PERAIRAN KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT



oleh : Niken Wuri Handayani, S.Si., M.Si.



Berita menghebohkan muncul dan menjadi pembicaraan para ilmuwan di Indonesia Bayangkan saja, pesut yang selama ini menjadi maskot provinsi Kalimantan Timur dan  dikatakan di Indonesia hanya ada di Sungai Mahakam, ternyata ditemukan juga di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.


Penemuan Pesut di Kubu Raya

Keberadaan pesut di Kabupaten Kubu Raya, sebelumnya belum pernah diketahui.  Meskipun masyarakat setempat sering kali menjumpai spesies ini, tapi mereka tidak tahu kalau spesies tersebut merupakan pesut.  “Lumba-lumba idong pesek”, demikian mereka menyebutnya.  Menurut Musjuding (42) salah seorang warga Dusun Terumbuk, Desa Nipah Panjang, Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya, (dikutip dari kalbar-online.com), masyarakat sering menemukan mamalia tersebut muncul dalam jumlah lebih dari satu ketika saat air dalam keadaan konda atau waktu di antara pasang dan surut. Selain itu, kondisi air juga dalam keadaan tenang dengan permukaan cukup tinggi. 

Masyarakat sering menemukan mamalia ini di sekitar perairan bakau Padang Tikar, Teluk Nuri, kanal-kanal bakau Selat Sih, perairan pesisir pantai, hingga perairan payau, selat-selat sempit hutan bakau dan nipah di perairan Batu Ampar.  Spesies ini sering datang ke kawasan tersebut  untuk bermain, beristirahat, atau mencari makan.

Tim survei WWF Indonesia bekerjasama dengan Badan Pengembangan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak berhasil mempelajari dan mendokumentasikan keberadaan populasi pesut atau lumba-lumba air payau Orcaella brevirostris di perairan Kubu Raya, Kalimantan Barat.  Dan hasil yang didapat sangat mengejutkan, dengan jarak survei keseluruhan 248 km, mencangkup 26 jam pengamatan selama 5 hari efektif, beberapa kelompok Irrawaddy dolphin yang muncul dipermukaan berhasil dideteksi di perairan payau hutan bakau dan nipah serta di selat-selat sempit Batu Ampar (WWF-Indonesia, 2011).


Deskripsi Pesut

Pesut atau lumba-lumba Irrawaddy (Irrawaddy dolphin), yang memiliki nama ilmiah Orcaella brevirostris Gray 1866, memiliki habitat di Muara bakau, delta, teluk, daerah pesisir dan daerah aliran sungai.  Seluruh tubuh dari pesut berwarna kelabu hingga biru tua, dan bagian bawahnya berwarna lebih pucat.  Tubuh pesut tidak memiliki pola yang khas.

Sirip punggungnya kecil dan membulat di tengah punggung.  Pesut tidak bermoncong, dahinya tinggi dan membulat.


Status Perlindungan

Pesut (Orcaella brevirostris) merupakan satwa yang dilindungi Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Ada dua species pesut di dunia yaitu Orcaella brevirostris dan Orcaella heinsohni (Snubfin dolphin), untuk perairan-perairan di Indonesia umumnya dihuni oleh Populasi Orcaella brevirostris.  Diperkirakan populasi tertinggi pesut terdapat di perairan hutan bakau Sundabarn, Bangladesh dan India dengan populasi sekitar 6000 ekor. Adapun populasi lainnya terdapat di Sungai Mekong Kambodia yaitu sekitar +/- 70 ekor, kemudian di Sungai Ayeyawardi di Myanmar dan Sungai Mahakam Kalimantan Timur. Ketiga lokasi ini dikategorikan dalam daftar merah IUCN memiliki populasi paling kritis (Critically Endangered), sedangkan lainnya dikategorikan sebagai rentan (Vulnerable).

Pada tahun 2004, Konvensi Perdagangan Internasional untuk Spesies Langka Flora dan Fauna Liar (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora / CITES) mengubah status perlindungan lumba-lumba Irrawaddy dari Appendix II menjadiappendix I yang melarang semua perdagangan komersial pada spesies yang terancam punah.

Lumba-lumba Irrawaddy terdaftar juga di Appendix I dan Appendix II  Konvensi tentang Konservasi Spesies Hewan Hidup yang Bermigrasi (Conservation of Migratory Species of Wild Animals /CMS). Seperti yang tercantum pada Appendix I, spesies ini telah dikategorikan terancam punah. Spesies ini juga dilindungi dalam Nota Kesepahaman untuk Konservasi Cetacea dan Habitatnya di wilayah Kepulauan Pasifik (Pasific Cetaceans MoU).


Pentingnya Konservasi Pesut

Pesut sangat menyukai ikan, udang-udangan, dan cumi-cumi, sehingga hal tersebut dapat menyebabkan konflik dengan manusia dalam mendapatkan makan untuk bertahan hidup.

 Kondisi saat ini belum terdapat konflik antara manusia dan pesut di wilayah  Muara Padang Tikar, Selat Sih, dan Teluk Nuri.  Nelayan di daerah tersebut tidak memburu pesut. Hanya saja karena mayoritas penduduk setempat bermata pencaharian sebagai nelayan, dan menggantungkan hidupnya dari sumber daya laut, seperti ikan, udang-udangan, cumi-cumi, serta hasil dari hutan bakau, maka sangat berpotensi terjadi konflik dengan pesut dalam mendapatkan sumber daya laut tersebut. Selain itu, keberadaaan pesut sangat tergantung pada kondisi perairan yang sehat.  

Ekosistem perairan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.  Saat ini, ancaman terhadap kondisi ekosistem perairan cukup tinggi. Limbah racun toksis, kotoran sampah dan sedimentasi akibat praktek-praktek pembangunan yang berbasis lahan tidak lestari/ tidak berkelanjutan, termasuk penebangan dan perambahan hutan di hulu sungai untuk industri perkayuan dan pertanian (perkebunan kelapa sawit komersial) merupakan beberapa ancaman dari ekosistem perairan.  Nelayan di wilayah Muara Padang Tikar, Selat Sih dan teluk Nuri banyak menggunakan jaring, per- angkap ikan, pukat ikan ser- ta jermal udang dan ikan  untuk menangkap ikan laut dan krustasea atau udang-udangan. Selat-selat sempit atau kanal-kanal perairan di Kubu Raya juga berfungsi sebagai jalur transportasi sungai yang menghubungkan pemukiman-pemukiman, seperti dari Pontianak ke Sukadana dan Ketapang dan sebaliknya.  Transportasi sungai meliputi perahu bermotor dan kapal cepat (speedboat), kapal penumpang, kapal penarik (tugboat) dan kapal kargo melewati kanal-kanal air yang menghubungkan pulau-pulau kecil dan desa-desa.  Selain itu, pengembangan pelabuhan untuk industri kayu bakau di dekat desa Batu Ampar dan kanal bakau Selat Sih mengakibatkan pembuangan limbah ke dalam perairan tersebut.  Secara tradisional, penduduk lokal menebang pohon bakau untuk produksi kayu arang dalam skala kecil.  Produk kayu arang ini dijual ke Pontianak dan bahkan diekspor ke Jawa dan Malaysia (WWF-Indonesia, 2011). 

Perairan Padang Tikar, Teluk Nuri, delta, dan perairan sekitar hutan bakau dan nypah di Batu Ampar tidak memiliki status kawasan lindung, dengan pengecualian status perlindungan untuk hutan bakau di Batu Ampar sebagai cagar Biosfer yang dapat dikelola dalam mekanisme Unit Pengelolaan Hutan (UPH) (Prasetiamartati dkk., 2008).  Sehingga sangat penting dilakukan upaya konservasi untuk melindungi pesut tersebut.
 
Sebagai spesies yang hidup di dua jenis perairan, tawar dan asin, pesut dapat menjadi spesies indikator yang mengindikasikan sehat atau tidaknya ekosistem perairan tersebut. Dengan menyelamatkan pesut-pesut yang berada di Kabupaten Kubu Raya, kita dapat menyelamatkan ekosistem perairan dan ekosistem mangrove di Kabupaten Kubu Raya.  Yuukk… kita bersama-sama menyelamatkan pesut-pesut disana!!



Tinjauan Pustaka :
 "Appendix I and Appendix II" of the Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS). As amended by the Conference of the Parties in 1985, 1988, 1991, 1994, 1997. 

CITES (2004-10-14). "CITES takes action to promote sustainable wildlife". Press Release (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Retrieved 2008-12-29. 1999, 2002, 2005 and 2008. Effective: 5th March 2009.

http://www.profauna.org/suarasatwa/id/2008/01/mengenal_jenis_lumnba-lumba_indonesia.html.

The IUCN Red List of Threatened Species. 2011.2

Kalbar Online, 2011. WWF temukan pesut di perairan Kubu Raya.  http://kalbar online.com/news/metropolitan/wwf-temukan-pesut-di-perairan-kubu-raya. 

Kreb, D. 2002. Density and abundance of Irrawaddy dolphin, Orcaella brevirostris, in the Mahakam river of East Kalimantan, Indonesia: a comparison of survey techniques. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 10: 85-95 

Kreb, D. 2004. Abundance of freshwater Irrawaddy dolphins in the Mahakam River in East Kalimantan, Indonesia, based on mark-recapture analysis of photo-identified individuals. J .CETACEAN RES. MANAGE 6(3): 269 – 277. 

Prasetiamartati, B., Tai, H.S., Santoso, N., Mustikasari, R. and Syah, C. 2008. Mangrove forest and charcoal production: case of Batu Ampar, West Kalimantan. Paper Submitted for IASC 2008 Global Conference.

No comments:

Post a Comment